Breaking News
light_mode

Kidungan Teks Pakem Kajen, Meriahkan Haul Mbah Mutamakkin

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kam, 9 Sep 2021
  • visibility 119

 

Festival Kajen, menembangkan Tesk Pakem Kajen

PATI – Manuskrip yang ditulis pada tahun 1891 ini terakhir ditembangkan
pada tahun 1950-an di Pasareyan Mbah Mutamakkin alias Kiai Cabolek alias
Pangeran Hadikusuma, cucu Raja Pajang, Joko Tingkir alias Mas Karebet alias
Sultan Hadiwijaya. Penulis manuskrip adalah Kiai Abdul Karim dari Margotuhu
Ngerojo.

Terakhir, sebab panambangnya setelah itu meninggal dunia. Kaneman Kajen
mencoba merevitalisasinya kembali: menembangkan satu-satunya manuskrip yang
menyimpan ajaran Dewa Ruci versi Mbah Mutamakkin. Satu-satunya. Sebab dalam
manuskrip-manuskrip yang lain, misalnya Serat Cabolek (yang ada belasan versi
itu), Ketib Anom lah yang membabar Dewa Ruci.

Kisah lain, Mbah Mutamakkin adalah guru spiritual Pukubuwana II. Ada
pertemuan empat mata antara Mbah Mutamakkin dan Pakubuwa II.  Ada ‘bisikan rahasia’ Mbah Mutamakkin yang
disampaikan. Bisikan itu agaknya memengaruhi langkah politik-kebangsaan
Pakubuwana II kala itu di Jawa, yang sedang gonjang-ganjing.

Kemudian, manuskrip ini juga menceritakan pengalaman seorang santri
yang ngaji kepada Mbah Mutamakkin. Namanya Ki Kedung Gede. Awalnya ia hendak
melabrak Mbah Mutamakkin karena dianggap sesat. Namun ketika berjumpa, dan
mengetahui kapasitas keilmuan Mbah Mutamakkin, Ki Kedung Gede justru malah
ingin berguru. Ki Kedung Gede pun mengakui bahwa Mbah Mutamakkin tidak hanya
mengajarkan agama Islam, tapi juga ilmu-ilmu kuno
 

Lantas, mengapa ditembangkan?

Mbah Yai Ruba’i, generasi kelima yang menyimpan manuskrip tersebut
merindukan suasana masa kecilnya. Kira-kira 70-an tahun yang lalu. Kala itu,
Mbah Yai Ruba’i bersama ayahandanya, Kiai Syamsuri, setiap tahun mengikuti
acara rutin Syuronan di Pasareyan Mbah Mutamakkin.
 

Salah satunya tetembangan Teks Pakem Kajen alias Suluk Alif. Warga
setempat menyebutnya sebagai ‘kidungan’. Namun kidungan itu hanya berlangsung
beberapa tahun. Sebab panambangnya sudah sepuh dan setelah itu meninggal dunia.

Kami sebagai generasi yang berbakti, lantas mencoba mengidungkannya
kembali secara bersama-sama. Salah satunya untuk menebus kerinduan Mbah Yai
Ruba’i. Meskipun dengan segala keterbatasan. Sesederhana itu alasannya.

“Menurut kami, ada pertimbangan-pertimbangan yang tidak bisa
menggantikan lelaku tradisi yang kadung dianggap kuno. Padahal, tradisi yang
bersangkutan dulunya adalah laku hidup sehari-hari. Di masa kini, terutama ada
pertimbangan-pertimbangan kultural dan spiritual, yang menurut kami keduanya
tidak bisa diwakili oleh teknologi digital dalam melakukan sebuah tradisi,”
ujar Taufiq Hakim yang mengidungkan Teks Pakem Kajen. Saat kidungan berlangsung
pada 28 Agustus lalu, spontan ada warga Kajen yang ikut mengidungkan. Ia adalah
Mbah Yasir. Menurut pengakuannya, Mbah Yasir juga merindukan suasana seperti
itu.

Di sisi lain, kata Taufiq, menulis jurnal, buku, esai, adalah penting
sebagai eksistensi tradisi di ranah studi dan kontestasi pengembangan studi.
Kami juga melakukannya.

“Tetapi, merevitalisasi tradisi yang telah lama hilang juga tak kalah
penting: ‘mengembalikan tradisi’ kepada ahli warisnya. Kedua lelaku tersebut
musti berjalan beriringan,” ujar mahasiswa Magister Sastra UGM ini. (nir)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenal Profil Geografis Kabupaten Jepara

    Mengenal Profil Geografis Kabupaten Jepara

    • calendar_month Kam, 3 Feb 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 165
    • 0Komentar

      @cungkringg_art Jepara adalah kota pesisir. Kota kecil dengan sejuta pesona dan keunikan potensi daerahnya. Dikutip dari situs jepara.go.id, secara geografis Kabupaten Jepara terletak di bagian Utara propinsi Jawa Tengah, dengan koordinat 110o9’48,02” – 110o58’37,40” BT dan 5o43’20,67” – 6o47’25,83” LS, dengan batas batas wilayah antara lain, sebelah barat dan utara berupa laut Jawa, sebelah […]

  • NU

    NU

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Dokumen facebook Meski tak punya kartu anggota Nadlatul Ulama (NU), tapi tak apa pula aku mengaku warga NU. Anggaplah NU kultural, bukan sebagai struktural. Meski pernah menerima sebuah SK Pembekuan dalam kepengurusan NU, sebutlah pemecatan, tapi tak apa pula aku tetap mengaku warga NU. NU bukan hanya yang tercatat resmi, yang tak tercatat resmi jauh […]

  • DPRD Pati Dorong Peningkatan Infrastruktur TPI Juwana untuk Dongkrak Ekonomi

    DPRD Pati Dorong Peningkatan Infrastruktur TPI Juwana untuk Dongkrak Ekonomi

    • calendar_month Sab, 28 Jun 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 132
    • 0Komentar

    PATI – Anggota DPRD Pati Komisi B, Sudi Rustanto, atau yang akrab disapa Tanto, menyoroti pentingnya peningkatan pengelolaan dan infrastruktur Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Juwana. Menurutnya, TPI Juwana sebagai pusat perekonomian di Kabupaten Pati, khususnya sektor perikanan, membutuhkan pengelolaan yang profesional dan sarana prasarana yang memadai. “Kecamatan Juwana ini pusat perekonomian di Kabupaten Pati dengan […]

  • Tema Elang Dan Gelombang untuk Jersey Persijap Musim 2021

    Tema Elang Dan Gelombang untuk Jersey Persijap Musim 2021

    • calendar_month Sel, 21 Sep 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Logo Degree Sports Wear JEPARA – Persijap Jepara resmi menggandeng perusahaan apparel asal Bandung, Degree Sports Wear untuk mengarungi Liga 2 musim 2021. Jersey punggawa Laskar Kalinyamat ini bakal mengusung tema Elang dan Gelombang. Degree sports wear nama resmi pakaian/ apparel asal Bandung ini akan memasok Jersey tanding, Jersey latihan dan seragam official team. Warna […]

  • DPRD Pati Sambut Gembira Inovasi Alat Mekanisasi Olah Tanah Pedot Oyot untuk Petani Tebu

    DPRD Pati Sambut Gembira Inovasi Alat Mekanisasi Olah Tanah Pedot Oyot untuk Petani Tebu

    • calendar_month Ming, 22 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 175
    • 0Komentar

    PATI – Anggota DPRD Kabupaten Pati, Kamari, menyambut gembira peluncuran alat mekanisasi olah tanah pedot oyot, sebuah inovasi dari PG Trangkil. Alat ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja di sektor pertanian tebu dan meningkatkan produktivitas. Kamari menekankan bahwa alat mekanisasi pedot oyot memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan cara tradisional. “Alat ini […]

  • Seduluran, Anak Punk Se Pantura Timur Gelar Pertunjukan di Pati

    Seduluran, Anak Punk Se Pantura Timur Gelar Pertunjukan di Pati

    • calendar_month Ming, 22 Jul 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 114
    • 0Komentar

     Komunitas anak punk di pantura timur menggelar pertunjukan bertajuk seduluran di Penda Kesenian komplek Stadion Joyokusumo Kabupaten Pati Kamis (19/7/2018) kemarin. Komunitas anak punk se pantura timur menggelar sebuah pertunjukan siang kemarin di Pendapa Kesenian komplek Stadion Joyokusumo. Tak hanya musik, pertunjukan seni rupa juga ditampilkan dalam kegiatan menggalang seduluran antar sesama anak punk tersebut. […]

expand_less