Breaking News
light_mode

Kofiku Gelar Bedah Buku “Pangeran dari Timur,” Soroti Nasionalisme Raden Saleh

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
  • visibility 563

KUDUS – Komunitas Fiksi Kudus (Kofiku) bekerja sama dengan Out of the Boox Kudus dan penerbit Bentang Pustaka sukses menggelar acara Bedah Buku “Pangeran dari Timur” di GOR Multifungsi Balai Jagong Kudus, Sabtu malam (11/10).

Acara ini menghadirkan dua pembicara dari Kofiku, Abdul Karim dan Arif Rohman, untuk mengulas novel karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi tentang pelukis legendaris Raden Saleh.

Novel setebal 700 halaman lebih ini memicu diskusi hangat karena menampilkan Raden Saleh tidak hanya sebagai seniman besar, tetapi juga sebagai tokoh yang hidup di tengah kekuasaan feodal dan kolonialisme.

Abdul Karim, dalam paparannya, menyebut Raden Saleh sebagai figur yang kompleks.

“Raden Saleh sangat berbakat karena dikirim belajar ke Eropa langsung. Tapi dia juga bukan sosok yang sepenuhnya patriotik. Ia keponakan Bupati Semarang, jabatan yang kala itu setara dengan utusan Belanda dan memiliki kekuasaan absolut,” jelas Karim.

Ia menambahkan bahwa ironi Raden Saleh terletak pada posisinya sebagai pelukis romantik yang menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak romantis.

Karim juga menyoroti struktur dua alur cerita dalam novel, yaitu kisah Raden Saleh dan kisah cinta Ratna Juwita, yang tampak berbeda namun saling berkaitan.

“Kedua cerita ini sama-sama mengajarkan untuk melawan feodalisme dan ketidakadilan. Lewat karakter Ratna Juwita, Syafi’i, dan Syamsudin, penulis menampilkan perang opini terhadap figur Raden Saleh: apakah ia pahlawan, atau sekadar ningrat yang beruntung?” ujarnya.

Arif Rohman menyoroti sisi nasionalisme dalam karya dan kehidupan Raden Saleh. Ia mengulas makna simbolik dari lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” dan “Antara Hidup dan Mati,” yang menggambarkan pertarungan singa dan banteng.

“Kerajaan identik dengan singa, sementara rakyat Hindia identik dengan banteng atau kerbau. Melalui lukisannya, Raden Saleh menyampaikan perlawanan dengan cara yang halus namun tajam,” tutur Arif.

Arif juga menyinggung kemungkinan Raden Saleh pernah mengunjungi situs purbakala Patiayam di Kudus bersama naturalis Franz Wilhelm Junghuhn pada tahun 1857.

“Karena kita tinggal di Kudus, saya penasaran apakah benar Raden Saleh pernah ke Patiayam. Novel ini tidak mengangkat hal itu, mungkin karena keterbatasan data. Tapi justru ini bisa jadi peluang bagi penulis Kudus untuk menulis episode yang belum diceritakan,” katanya.

Dalam sesi tanya jawab, sejumlah peserta muda menanyakan relevansi novel ini dengan pembelajaran sejarah dan makna “Timur” dalam judul. Arif menjelaskan bahwa judul “Pangeran dari Timur” bisa dimaknai sebagai representasi tiga tokoh utama, yakni Raden Saleh, Syafi’i, dan Pit Liong, serta simbol pertentangan antara dunia Barat dan Timur.

“Raden Saleh pernah menyebut dirinya Pangeran dari Jawa. Novel ini mungkin memperluas makna itu menjadi Pangeran dari Timur sebagai refleksi identitas dan benturan budaya,” jelasnya.

Abdul Karim menambahkan bahwa salah satu daya tarik novel ini adalah penggambaran Raden Saleh sebagai manusia biasa.

“Penulis tidak memuja Raden Saleh sebagai pahlawan tanpa cela. Ia digambarkan punya ego, bahkan skandal asmara di Eropa. Justru di situ menariknya, kita melihat seniman besar ini secara manusiawi,” ujar Karim.

Diskusi ditutup dengan refleksi Arif bahwa nasionalisme Raden Saleh patut dibaca dalam konteks zamannya.

“Raden Saleh hidup seratus tahun sebelum kemerdekaan. Nasionalismenya tidak bisa dibandingkan dengan Soekarno, tapi ia tetap menunjukkan keberanian lewat seni. Kalau hari ini kita ingin menyuarakan kritik, bisa lewat media sosial. Dulu, Raden Saleh melakukannya lewat lukisan,” pungkasnya.

Acara ini merupakan bagian dari upaya Kofiku, Out of the Boox Kudus, dan Bentang Pustaka untuk menghidupkan budaya literasi melalui pembacaan dan diskusi karya sastra sejarah.

Editor: Arif

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jadi Konsumen Dulu Baru Produsen

    Jadi Konsumen Dulu Baru Produsen

    • calendar_month Rab, 16 Jan 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 409
    • 0Komentar

    SailaRachmawati INSTAGRAM Saila Rachmawati cukup cerdas. Perempuan yang kini menempuh studi S2 manajemen pendidikan di IAIN Kudus ini berhasil menerapkan teori ATM dalam mengembangkan sebuah produk yang digelutinya. Amati, tiru, dan modifikasi. Saila telah berhasil berinovasi menciptakan sebuah produk hijab, dari kebiasaannya suka membeli hijab-hijab produk orang lain. Bahkan sekarang, alumnus Fakultas IAIN Kudus ini […]

  • Dua Pemain Senior Diharapkan Jadi Tumpuan

    Dua Pemain Senior Diharapkan Jadi Tumpuan

    • calendar_month Sen, 17 Jun 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 312
    • 0Komentar

    Skuad Persipa jelang laga  Tim pelatih menaruh harap lebih kepada dua pemain seniornya. Mereka adalah Fernando Taryono striker dan Bayu Eko Prasetyo di posisi bek. Keduanya saat dijajal menjamu Persamba Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur Minggu (16/6/2019) tampil meyakinkan. “Kalau saya ambil pemain senior, saya gak main-main. Taryono, dia goal getter, leadershipnya bagus, sabar, mau […]

  • Muntamah: Pemeriksaan Rutin di Posyandu Penting untuk Mencegah Stunting

    Muntamah: Pemeriksaan Rutin di Posyandu Penting untuk Mencegah Stunting

    • calendar_month Rab, 18 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 290
    • 0Komentar

    PATI – Muntamah, anggota DPRD Kabupaten Pati, mengimbau orang tua untuk secara rutin memantau perkembangan anak-anak mereka. Hal ini disampaikan oleh anggota Komisi D tersebut saat menekankan pentingnya pemeriksaan tumbuh kembang anak di posyandu secara berkala. Muntamah menjelaskan bahwa langkah ini sangat penting untuk mencegah stunting. Menurutnya, posyandu merupakan salah satu saluran efektif untuk melakukan […]

  • DPRD Pati Sosialisasikan Netralitas ASN dalam Pilkada 2024

    DPRD Pati Sosialisasikan Netralitas ASN dalam Pilkada 2024

    • calendar_month Kam, 17 Okt 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 301
    • 0Komentar

    PATI – Muslihan, anggota DPRD Pati, mewakili Ketua DPRD Pati Ali Badrudin, menjadi narasumber dalam Penyuluhan Hukum bagi Kepala Desa/Lurah menjelang Pilkada 2024 di Kabupaten Pati. Acara yang digelar hari ini dihadiri oleh seluruh kepala desa, ASN, serta Pj Bupati Pati, Kapolresta Pati, Dandim Pati, dan Kepala Kejaksaan Negeri Pati. Dalam penyampaiannya, Muslihan menekankan pentingnya […]

  • Tanpa Satu Kata Pun, Teater Boneka “Jala dan Jana” Ceritakan Hubungan Manusia dan Sungai di Kudus

    Tanpa Satu Kata Pun, Teater Boneka “Jala dan Jana” Ceritakan Hubungan Manusia dan Sungai di Kudus

    • calendar_month Sen, 20 Jul 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 101.167
    • 0Komentar

    KUDUS – Gemericik air, gerak tubuh, bentuk gambar, dan kain menjadi satu-satunya bahasa yang menghidupkan pertunjukan teater boneka bertajuk “Jala dan Jana” di Panggung Ngepringan, Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW), Kudus, Sabtu (18/7/2026) malam. Berlangsung selama sekitar 30 menit tanpa sebaris dialog, pementasan ini justru berhasil menyampaikan pesan mendalam tentang keterkaitan erat antara manusia dan […]

  • Bupati Pati Akomodir Penurunan PBB yang Melonjak Hingga 250 Persen

    Bupati Pati Akomodir Penurunan PBB yang Melonjak Hingga 250 Persen

    • calendar_month Kam, 7 Agu 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 326
    • 0Komentar

    PATI – Usai menghadiri Kirab Hari Jadi ke-702 Kabupaten Pati, Kamis (7/8/2025), Bupati Pati Sudewo menyampaikan pernyataan penting terkait kebijakan pajak daerah yang menjadi sorotan masyarakat. Sudewo menanggapi keresahan warga terkait kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang disebut melonjak hingga 250 persen. “Bapak-Ibu sekalian, warga Kabupaten Pati yang saya hormati dan saya banggakan, terkait […]

expand_less