85-95 Persen Bahan Baku Obat Impor, Edy Wuryanto: Industri Farmasi Sangat Rentan Gejolak Nilai Tukar Rupiah
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 99.691

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto
JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga obat di pasar dalam negeri.
Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, mengingatkan pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipasi guna melindungi industri farmasi, fasilitas kesehatan, serta keberlangsungan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Hal ini sangat mendesak mengingat tingkat ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat impor masih tergolong sangat tinggi.
Menurut penjelasan Edy, sekitar 85 hingga 95 persen kebutuhan bahan baku obat di Indonesia masih harus didatangkan dari luar negeri, utamanya dari China dan India.
Kondisi ini membuat industri farmasi nasional sangat sensitif dan mudah terguncang setiap kali terjadi perubahan nilai tukar mata uang.
“Saat rupiah melemah, harga bahan baku impor otomatis menjadi lebih mahal. Akibatnya biaya produksi obat meningkat dan tekanan akan dirasakan oleh seluruh rantai layanan kesehatan,” kata Edy.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa dampak pelemahan rupiah saat ini tidak hanya memberatkan produsen obat. Pasalnya, harga obat yang tercantum dalam program pemerintah maupun daftar harga di e-katalog tidak bisa serta merta dinaikkan mengikuti kenaikan biaya produksi yang terjadi di lapangan.
“Perusahaan farmasi harus menanggung kenaikan biaya produksi, sementara harga jual obat belum tentu bisa langsung naik. Kalau kondisi ini berlangsung lama, produsen pasti akan mengajukan penyesuaian harga,” ujarnya.
Politikus dari PDI Perjuangan ini menilai bahwa risiko yang jauh lebih serius adalah dampak lanjutannya terhadap keberlanjutan program JKN.
Kenaikan harga obat otomatis akan menambah beban pembiayaan kesehatan nasional yang saat ini diketahui sudah menghadapi berbagai tantangan berat.
Bagi Edy, kenaikan harga obat akan membebani fasilitas kesehatan yang selama ini beroperasi mengandalkan skema pembiayaan dari BPJS Kesehatan.
Jika hal ini tidak segera diantisipasi, dikhawatirkan ketersediaan obat di pelayanan kesehatan akan berkurang, sehingga memaksa pasien harus membeli obat sendiri di luar jaminan asuransi.
Selain mengancam kelancaran layanan kesehatan, pelemahan nilai tukar berpotensi mengganggu jalannya rantai pasok di industri farmasi.
Perusahaan dengan kemampuan keuangan terbatas akan kesulitan menambah modal kerja guna membeli bahan baku impor yang harganya makin mahal.
Bahkan, jika kondisi ini berlarut-larut, bukan tidak mungkin akan muncul dampak pada pengurangan tenaga kerja.
Oleh karena itu, Edy meminta pemerintah tidak hanya berfokus menstabilkan rupiah, tetapi juga mempercepat langkah menuju kemandirian farmasi nasional.
Anggota DPR dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah III ini menyoroti masih minimnya perhatian dan dukungan terhadap kegiatan penelitian serta pengembangan bahan baku obat di dalam negeri.
Padahal, isu kemandirian di sektor ini sudah lama menjadi bagian dari agenda transformasi sistem kesehatan nasional.
“Selama ketergantungan impor masih sangat tinggi, setiap kali rupiah melemah kita akan menghadapi masalah yang sama. Karena itu pemerintah harus serius memperkuat riset bahan baku obat, mendukung perguruan tinggi, BRIN, dan industri farmasi untuk mengembangkan bahan baku lokal,” ujar Edy.
Ia menegaskan, Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan sangat potensial dikembangkan menjadi bahan baku obat-obatan.
Namun hingga saat ini, nilai investasi untuk penelitian dan pengembangan masih jauh di bawah kebutuhan yang seharusnya.
“Kemandirian farmasi tidak akan lahir tanpa keberpihakan anggaran dan political will yang kuat dari pemerintah,” imbuhnya.
Editor: Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

