KUDUS – Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, meriah dengan Suronan Fest, tradisi tahunan yang jatuh pada bulan Suro atau Muharram. Lebih dari sekadar pesta rakyat, acara ini menghidupkan kembali nilai sejarah, spiritualitas, dan memberdayakan ekonomi masyarakat setempat.
Kepala Desa Jepang Pakis, Sakroni, menjelaskan bahwa Suronan Fest tahun ini dipersembahkan untuk mengenang jasa para pendiri desa, di antaranya Mbah Abdul Karim (Syekh Abdul Karim), Mbah Brojo Kusumo, Mbah Buyut Rawi, dan seorang tokoh lainnya yang letaknya berdekatan dengan area bazar.
“Ini untuk mengingatkan warga akan sejarah desa dan mendukung doa untuk para pendiri yang berjasa,” ungkapnya.
Salah satu daya tarik Suronan Fest adalah bazar rakyat yang menampilkan lebih dari 100 lapak pedagang, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 70 lapak.
“Pedagang bukan hanya dari sini, ada juga dari Jepara dan sekitarnya. Kami tak membatasi asal, yang penting kegiatan ini mendorong semangat berjualan dan membuka peluang usaha,” tambahnya.
Beragam produk ditawarkan, mulai dari kuliner khas seperti cilok hingga pakaian, aksesoris, dan mainan. Keramaian puncak terjadi pada malam hari, menarik pengunjung dari luar desa.
Suronan Fest tak berdiri sendiri. Acara ini terintegrasi dengan kegiatan keagamaan seperti ganti luwur, pengajian haul Mbah Abdul Karim, dan tartil Al-Qur’an. Pentas seni dari anak-anak TK, MI, dan SD turut memeriahkan, didukung dana dari APBDes.
“Ini tahun keempat, dan Alhamdulillah selalu meningkat. Tujuan utama adalah mempererat silaturahmi warga dan menggerakkan ekonomi desa,” ujarnya.
Ke depan, pihaknya berencana menghadirkan kesenian tradisional dari luar daerah untuk menjadikan Jepang Pakis desa yang kaya tradisi, mandiri, dan produktif secara ekonomi.
Editor: arif