Breaking News
light_mode

Menyantap Pecok Cambah dan Docang Pe, Hidangan Lezat Khas Pesisir Pati Utara

  • account_circle Arif Mohamad
  • calendar_month Sel, 8 Apr 2025
  • visibility 440

PATI – Wilayah pesisir di Pati Utara menyimpan kekayaan kuliner khas yang menggugah selera. Di antaranya adalah pecok cambah dan docang pe, dua sajian tradisional yang unik dan jarang ditemukan di daerah lain.

Kedua hidangan ini menawarkan cita rasa yang berbeda dari masakan khas Lebaran seperti opor atau semur yang biasanya berbahan santan.

Pecok cambah terdiri dari kecambah segar yang diolah bersama sambal khas yang pedas dan gurih. Biasanya, hidangan ini disajikan bersama lauk seperti telur atau ikan bandeng, menciptakan perpaduan rasa yang menggoda.

Sementara itu, docang pe adalah makanan yang sangat populer di kalangan masyarakat pesisir. Hidangan ini berbahan dasar ikan pari, yang oleh warga lokal dikenal sebagai iwak pe.

Ikan tersebut disuwir dan disajikan bersama sambal docang—campuran kacang panjang yang diiris kecil, sambal, dan parutan kelapa. Perpaduan rasa pedas, gurih, dan segar menjadikan menu ini favorit banyak orang.

Karena rasanya yang khas dan nostalgia yang dibawanya, banyak pemudik dan pecinta kuliner yang mencari kedua menu ini.

Salah satu tempat yang menyajikan hidangan tersebut adalah warung milik Agil Putra Winarto di Desa Tayu Kulon, Kecamatan Tayu, Pati.

Imam Azizi, warga Dukuhseti, mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya yang sedang mudik sengaja mencari hidangan ini sebagai alternatif dari menu Lebaran yang umum.

“Biasanya ya opor dan ketupat yang penuh santan. Kami ingin mencoba sesuatu yang beda, dan ini juga mengingatkan saya pada masa kecil,” ujarnya.

Menurut Imam, keluarganya yang berasal dari Tangerang sangat antusias mencicipi pecok cambah dan docang pe karena tidak bisa menemukannya di tempat tinggal mereka.

“Mereka penasaran karena ini makanan khas pesisir yang nggak ada di perantauan,” katanya.

Agil, sang pemilik warung, menyampaikan bahwa ia memang sengaja mengangkat kembali menu-menu khas pesisir yang kini mulai langka.

“Kami ingin menghadirkan kembali rasa rindu pada makanan tradisional. Dahulu pecok cambah dan docang pe biasa dimasak oleh keluarga nelayan di sekitar sini, termasuk di Kecamatan Tayu,” jelasnya.

Selain dua menu tersebut, Agil juga menyajikan kuliner khas lainnya seperti sambal jeruk ikan tongkol dan mangut kepala manyung.

Ia menyebut bahwa setiap harinya, puluhan hingga ratusan pengunjung datang untuk mencicipi sajian khas yang ditawarkannya.

EDITOR : Adhim

  • Penulis: Arif Mohamad

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siap-siap, Masuk Obyek Wisata di Jepara Bisa Gratis

    Siap-siap, Masuk Obyek Wisata di Jepara Bisa Gratis

    • calendar_month Ming, 26 Mei 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Pulau Panjang menjadi salah satu obyek wisata yang akan digratiskan Pemkab Jepara Senin hingga Jumat, masuk obyek wisata di Kabupaten Jepara gratis. Obyek wisata yang dimaksud itu adalah obyek wisata yang dikelola Pemkab Jepara. Kebijakan itu diharapkan mampu meningkat geliat pariwisata di Bumi Kartini ini. Rancangan perda tentang perubahan kedua atas Perda nomor 26 tahun […]

  • Gelar Pahlawan Nasional untuk Hidupkan Semangat Kemaritiman Ratu Kalinyamat

    Gelar Pahlawan Nasional untuk Hidupkan Semangat Kemaritiman Ratu Kalinyamat

    • calendar_month Rab, 13 Mar 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Lukisan Ratu Kalinyamat yang gagah berani dengan latar belakang kapal-kapal besar JEPARA – Gerakan penandatanganan petisi dilakukan, sebagai upaya mengajukan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional. Beberapa kelompok masyarakat sudah memulai. Ada Yayasan Dharma Bakti Lestari, Yayasan Lembayung Kalinyamatan, Komunitas Mas dan Mbak Jepara, Lesbumi NU Jepara, dan beberapa tokoh lainnya. Ratu Kalinyamat sendiri adalah seorang […]

  • Filosofi Viking Row, Spirit Kebersamaan yang Mengantarkan Norwegia Bersinar di Piala Dunia 2026

    Filosofi Viking Row, Spirit Kebersamaan yang Mengantarkan Norwegia Bersinar di Piala Dunia 2026

    • calendar_month Sen, 6 Jul 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 100.806
    • 0Komentar

    PATI – Perjalanan Tim Nasional Norwegia pada ajang Piala Dunia 2026 menjadi salah satu kisah menarik dalam turnamen. Di balik keberhasilan mereka melaju hingga babak perempat final, terdapat filosofi Viking Row yang menjadi landasan kuat dalam membangun karakter dan pola permainan tim. Keberhasilan memulangkan timnas Brazil di babak 16 besar, menegaskan kekuatan Norwegia dalam menghadapi […]

  • Dewan Pati Apresiasi Even Meron Sebagai Wisata Budaya

    Dewan Pati Apresiasi Even Meron Sebagai Wisata Budaya

    • calendar_month Rab, 18 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 307
    • 0Komentar

    PATI – Anggota DPRD Pati dari Fraksi Partai Golkar, Endah Sri Wahyuningati, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan tradisi Meron di Sukolilo, Pati. Ia menilai tradisi ini sebagai sebuah even budaya yang menarik minat wisatawan. “Saya sangat mengapresiasi berjalannya tradisi Meron di Sukolilo, Pati. Ini adalah sebuah even budaya yang menarik dan patut kita lestarikan,” ujar Bu […]

  • Olah Vokal Lima Menit Sehari

    Olah Vokal Lima Menit Sehari

    • calendar_month Sel, 2 Apr 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Eka Fitri Suryani MEMASUKI semester akhir, Eka Fitri Suryani tidak merasa terganggu dengan rutinitasnya di dunia hiburan. Selain fokus menyelesaikan tugas akhir, ia juga tetap salurkan bakatnya di luar aktivitasnya sebagai mahasiswi. Gadis kelahiran, Jepara,  10 Maret 1995 ini mulai menggeluti dunia entertaining sejak 2013 lalu. Mulai jadi pembawa acara resmi, pernikahan, ulang tahun, gathering, […]

  • Bangun Kesiangan Tak Jadi Nyunrise (2)

    Bangun Kesiangan Tak Jadi Nyunrise (2)

    • calendar_month Sen, 10 Jun 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Puncak Gunung Gede yang menakjubkan dengan kepulan asap dari kawahnya  Matahari mulai meninggi. Kami tak sadar. Setelah makan malam itu kami terlelap. Nyenyak sekali. Bangun kesiangan membuat momen sunrise hilang. Padahal momen saat matahari terbit itu menjadi dambaan para pendaki. Termasuk kami. Setelah bangun, kami mulai bersiap-siap. Memasak sarapan dengan bahan-bahan yang kami bawa dari […]

expand_less