Edy Wuryanto Dorong UMK Jadi Pusat Pelatihan Calon Pekerja Migran melalui SMK Go Global
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 102.835

Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto saat menjadi pembicara dalam talkshow program SMK Go Global di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (14/10/2026).
KUDUS – Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto mendorong Universitas Muria Kudus (UMK) untuk berkontribusi dalam pelaksanaan program SMK Go Global yang diinisiasi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
Perguruan tinggi tersebut diharapkan mampu menjadi pusat pelatihan dan persiapan calon pekerja migran Indonesia, terutama bagi siswa SMK di Kudus dan wilayah sekitarnya.
Hal itu disampaikan Edy saat menjadi pembicara dalam talkshow bertajuk “Membedah Jaminan Perlindungan bagi Pekerja Migran dalam Penerapan Program SMK Go Global di Era Integrasi Pasar Kerja” yang berlangsung di Auditorium UMK, Rabu (14/10/2026).
Acara yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum UMK itu juga menghadirkan Dewi Ariam, Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Tengah.
Dalam pemaparannya, Edy menjelaskan bahwa SMK Go Global menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menyiapkan calon pekerja migran yang memiliki keterampilan dan kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja internasional.
“Saya berharap UMK menjadi bagian dari SMK Go Global. Ada target 40 ribu calon pekerja migran yang akan disiapkan KP2MI, mulai dari pelatihan bahasa, kompetensi, uji kompetensi, hingga penempatan,” kata Edy.
Ia menambahkan, pemerintah memberikan dukungan pembiayaan untuk berbagai tahapan persiapan calon pekerja migran hingga keberangkatan. Fasilitas tersebut meliputi pelatihan, uji kompetensi, pemeriksaan kesehatan atau medical check-up, pengurusan visa, hingga paspor.
Menurut Edy, dukungan pemerintah itu menjadi peluang bagi perguruan tinggi untuk memperluas akses pelatihan bagi lulusan SMK yang berminat bekerja di luar negeri. UMK dinilai dapat mengambil peran dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan negara tujuan.
Ia pun berharap UMK menginisiasi pusat pelatihan melalui UMK Migrant Center atau pusat layanan pekerja migran berbasis universitas. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi wadah pelatihan bagi siswa SMK dari Kudus dan daerah sekitarnya sebelum memasuki dunia kerja internasional.
“SMK-SMK yang ada di Kudus dan sekitarnya bisa berada di training center yang nanti dikembangkan oleh UMK melalui UMK Migrant Center berbasis universitas. Ini yang saya harapkan agar target 40 ribu calon pekerja migran bisa tercapai,” ujarnya.
Edy juga mengungkapkan rencana pemerintah untuk meningkatkan jumlah calon pekerja migran yang dipersiapkan dalam beberapa tahun ke depan. Setelah menargetkan 40 ribu orang pada tahap awal, pemerintah merencanakan penyiapan masing-masing 140 ribu calon pekerja migran pada 2027, 2028, dan 2029.
Melalui tahapan tersebut, pemerintah menargetkan total 500 ribu calon pekerja migran Indonesia dapat dipersiapkan melalui program SMK Go Global.
Meski demikian, Edy mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan pelatihan. Proses penyiapan calon pekerja migran, menurutnya, harus berangkat dari kebutuhan tenaga kerja yang benar-benar tersedia di negara atau perusahaan tujuan.
“KP2MI betul-betul mendesain mulai dari persiapan, penempatan, hingga perlindungan di negara tujuan. Basisnya adalah job order,” jelasnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan tenaga kerja atau job order dapat diperoleh melalui kerja sama antarpemerintah (government to government), kerja sama antarpihak swasta (private to private), serta permintaan melalui perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI).
Informasi kebutuhan tenaga kerja tersebut selanjutnya menjadi acuan bagi lembaga penyelenggara pelatihan dalam mempersiapkan calon pekerja migran. Lembaga yang terlibat dapat berupa perguruan tinggi, balai latihan kerja (BLK) pemerintah, maupun lembaga pelatihan kerja (LPK) swasta.
Dengan mekanisme tersebut, pelatihan diharapkan tidak sekadar meningkatkan kemampuan calon pekerja migran, tetapi juga terhubung langsung dengan peluang kerja yang tersedia di luar negeri.
“Job order-nya kita tarik dulu. Maka saya meyakini dengan cara seperti ini, perlindungan bagi pekerja, baik sebelum maupun selama penempatan, dapat berjalan dengan baik,” tegasnya.
Program SMK Go Global diharapkan mampu memperkuat sistem penyiapan pekerja migran Indonesia secara terencana, mulai dari pemenuhan kompetensi hingga penempatan sesuai kebutuhan pasar kerja internasional. Keterlibatan perguruan tinggi, termasuk UMK, menjadi salah satu faktor penting untuk membangun ekosistem pelatihan sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi lulusan SMK.
Selain membahas persiapan tenaga kerja, talkshow tersebut juga menjadi sarana bagi mahasiswa UMK untuk mendalami pentingnya jaminan perlindungan bagi pekerja migran di tengah integrasi pasar kerja global.
Aspek perlindungan dinilai tidak kalah penting dari kompetensi. Dengan persiapan yang tepat dan proses penempatan sesuai ketentuan, calon pekerja migran diharapkan memiliki keterampilan yang dibutuhkan sekaligus memperoleh kepastian untuk bekerja secara aman di negara tujuan.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

